Tanggal 4 Juni 1859, terjadi ‘Perang Magenta’ (Battle of Magenta) di kota Magenta, Lombardy (sekarang Italia) antara pihak Kerajaan Sardinia dibantu Perancis melawan Austria. Di masa itu negara Italia belum ada dan perang ini adalah pertempuran merebutkan wilayah-wilayah penting di Italia seperti Milan, Lombardia, juga Venesia yang berada di Kerajaan Lombardia-Venesia yang dikuasai oleh Austria.
Warna magenta muncul sekitar tahun 1858–1859 di Perancis, ditemukan oleh François-Emmanuel Verguin (1814–1864), seorang ahli kimia industri yang melakukan percobaan kimia untuk mencari alternatif pewarna sintetis pada senyawa organik batubara.
Nama awalnya bukanlah magenta melainkan ‘fuchsine‘, berasal dari nama dari bunga fuchsia, di Indonesia dikenal dengan nama bunga anting-anting. Warnanya mirip merah keunguan yang cerah. Saat ditemukan, tidak ada kaitannya dengan ‘Perang Magenta’ (Battle of Magenta) di masa itu.
Nama ‘Magenta‘ dipakai menggantikan nama ‘Fuchsine‘ lebih pada strategi pemasaran (branding) industri kimia saat itu yang sangat kompetitif. Digunakan sebagai simbol kemenangan nasional Perancis meski memang tidak ada kaitan langsung secara visual dan lebih memakai nama terkenal agar produk cepat populer.
Tulisan ini untuk meluruskan pendapat karena sering dikatakan bahwa warna Magenta adalah warna darah dari pertempuran di masa lalu. Bukan, itu hanya sekadar mitos populer, bukan fakta sejarah utama.







